serpihan cahaya,,
menerjang jingga,,,
pandanganmu,,
subur sekali,,

hari berganti,,
bulan pun mengikuti,,
cantinya parasmu,,
dan sekelompok sepertimu,,

hingga kini ku heran,,
kenapa ku suka kamu,,
mendambkanmu,,
walau tak pernah ku dapat,,

tak kah kau sadari itu??
wahai gadis berparas cantik,,
kenapaa demikian,,
hingga bunga kian layu,,

tak pelak kau mengunjungiku,,
mungkin akku hanya mimpi di siang bolong,,

seperti burung hantu mengiga di siang ini,,
saat semuanya pergi,,

burung itu berbicara,,
sungguh berbicara,,
jangan sedih katanya,,
karena ini hanyalah ilusi..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *