dulu sempat aku berkata padamu, bukan? orang yang begitu memahami cinta, maka ia hanya akan menyintai dengan caranya sendiri; tak perduli persepsi, tak butuh nilai pasti dari tiap orang yang datang menghampiri, seolah mereka adalah para pendekar sakti yang mumpuni dalam hal menyintai. karena apa, kau tahu? bagiku mereka tak mengerti apapun, jangankan mengertiku, mereka sendiri saja belum tentu mampu menyintai pasangannya dengan bersahaja, dengan hati paling ikhlas yang mampu mereka bina, terlebih mereka jaga keberadaannya.

begitulah aku, dengan tiap judul lagu yang pernah kuberi dan kau dengarkan dalam diam, saat kau sendirian, maka disitulah caraku menyapa nuranimu yang paling dalam. kubangkitkan tiap aroma anggrek cinta yang kau tanam untuk kusemai menjadi bibit bahagia, dengan niat paling tulus yang pernah ada, pernah singgah dalam hidup kita yang singkat, dan kujanjikan itu takkan pernah kau temui di lain tempat, di lain hari, di lain hati, di lain ladang, ataupun para durjana yang mengaku punya cinta paling tulus untukmu, dimana pada tiap katup bibir mereka yang culas akan memberimu rasa yang tak pernah kau temui, sementara aku, yang kau diamkan, yang kau tinggalkan, telah kucoba memberi keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *